feedburner

Lorem ipsum dolor sit amet,
consectetur adipisicing elit,
sed do eiusmod tempor incididunt ut labore
et dolore magna aliqua.

Awal Kisah Tak Berujung

Labels:

Shit.... Pagi itu aku terbangun kesiangan, setelah semalaman berkutat di depan RedHat Enterprise Linux 5 yang harus segera online untuk menghandle seluruh office network di tempatku bekerja. Bergegas tanpa membuang waktu, kuhabiskan 5 menit di kamar mandi hanya dengan bilas-bilas dan gosok gigi ala kadarnya. Handphone-ku sudah menunjukkan waktu 8.30.

Damn, jam 9.30 aku harus memberikan training pada para pengungsi mengenai kegunaan internet bagi komunikasi jarak jauh dan pengembangan bisnis. Padahal, waktu minimail yang harus kutempuh dari rumah sampai ke kantor adalah 1 jam bila kondisi jalan normal (tidak terlalu macet), dan 1 sampai 2 jam apabila macet parah. Dan benar apa yang kutakutkan, motorku memasuki gerbang kantor jam 9.15, dan aku lihat para peserta training sudah memenuhi ruangan pelatihan. Untunglah co-trainer-ku memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengeksplorasi internet, sebelum aku memberikan materi.

Aku segera menyalakan komputer di ruanganku, dan bergegas mengambil buku materi yang akan menjadi "senjata"ku hari ini. Setelah menikmati seteguk kopi yang telah tersedia di mejaku, aku segera berjalan menuju ruang pelatihan. But, wait! Who is that? Apakah mataku tidak salah melihat pagi ini? Duduk di depan ruang pelatihan, sambil membaca copy buku materi pelatihanku, Pipiet. Apa yang dia lakukan disini? Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku membuka suara dan menyapa dia yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku di hadapannya.

"Pipiet ya..?", tanyaku spontan.
"Eh... Yohan. Sudah ku duga ini pasti kamu.", katanya sambil menunjuk buku materi pelatihan karanganku itu.
"Bahasanya kamu banget, sampai hafal. Ngapain kamu disini?" tanyanya sambil menjabat tanganku.

Aku cuma melotot sambil mengucap, "Aku disini ya kerja donk. Masa belanja. Kamu nich ada-ada aja.", timpalku.
"Lah kamu sendiri disini ngapain? Mau ikut trainingku?" tanyaku menyelidik.
"Ngga. Aku khan sekarang kerja sebagai pendamping para pengungsi ini". "Yaudah, kamu jangan pulang dulu ya nanti. Aku ngajar dulu." kataku sambil bersiap-siap beranjak ke dalam ruang pelatihan.

--- A LITTLE BIT FLASHBACK ---

Pipiet adalah mantan pacarku, atau lebih tepatnya mantan TTM-ku. Dia tidak pernah secara resmi menjadi pacarku, karena saat kami menjalin hubungan, selalu ada orang lain yang sedang resmi menjadi pacarku. Dua kali kami putus sambung di masa kuliah, tapi itu tidak membuat hubungan kami tak bisa menjadi sepasang kekasih. Satu-satu-nya hal yang menjadi penghalangku untuk menikahinya dulu adalah perbedaan agama kita yang tidak bisa ditembus dengan cara apapun.

Kami memang sepasang kekasih, yang tidak pernah mengumumkan hubungan kami secara resmi. Hanya rekan-rekan kami yang terdekat saja yang tahu bagaimana hubungan kami sebenarnya. Pipiet adalah orang pertama yang mengajariku "french kiss". Dia adalah seniorku sebenarnya, senior setahun diatasku. Dia jugalah yang menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru, ketika aku baru memasuki masa pekuliahan. Ketertarikanku sudah timbul sejak minggu pertama masa orientasi mahasiswa baru, ketika aku terpilih untuk menjadi pimpinan regu. Saat itu, dia berperan sebagai "senior yang baik" diantara senior-senior yang "kejam" pada saat itu.

Hubungan kami menjadi lebih erat, ketika aku bergabung dengan kegiatan kemahasiswaan yang sama dengannya. Ketika kelompok kami akan mengadakan kegiatan, kami ditunjuk sebagai team pencari dana, dimana akhirnya kami sering keluar dan pergi bersama, untuk mencari sponsor tentunya. Hal ini membuat kami semakin akrab, dan walau tidak pernah diresmikan, kami menjadi sepasang kekasih (walau saat itu sebenarnya aku sedang jalan dengan seorang teman satu angkatan).

Suatu hari, ketika Pipiet sedang bertandang kerumahku, membahas tentang beberapa calon sponsor yang akan kami dekati, secara tidak sengaja radio yang sedang aku dengarkan memutar lagu "Semoga" milik Katon Bagaskara. Saat itu, tiba-tiba Pipiet diam, dan termenung beberapa saat. Kemudian, terluncurlah cerita dari mulutnya, bagaimana dia mendambakan seorang pasangan hidup yang mau mengerti dia apa adanya. Spontan, aku termenung, dan terdiam. Hal yang sama aku lontarkan, sebab pada saat itu memang hubunganku dengan pacarku sedang tidak harmonis dan diwarnai keributan. Perbincangan kami rupanya telah membawa kami terhanyut pada emosi diri

Dan entah siapa yang memulai, kami telah berciuman. Dasar masih yunior, ciumanku hanya sekedarnya, dan rupanya ini membuat penasaran Pipiet.
"Kamu kok ciuman kaya gitu sih... Emang belum pernah ciuman yang hot ya?", tanyanya.
"Belum.", jawabku polos.
"Mau ngga aku ajarin French Kiss?", tanyanya lagi.
"Jelas mau donk.", jawabku kegirangan. Dan sejak saat itu, setiap kali kami bertemu, french kiss adalah kegiatan rutin yang pasti kami lakukan.

Suatu hari, ketika kami sedang pergi keluar kota untuk menemui seorang calon sponsor, aku meminjam mobil teman, sehingga kami bisa lebih leluasa dalam bepergian. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Pipiet membisikkan sesuatu,

"Yo, kamu mau ngga bercinta dengan aku?".

Aku terkejut. Hampir saja aku lupa menginjak rem, karena tiba-tiba mobil di depanku mendadak berhenti.

"Apa?", tanyaku tak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Kenapa? Kurang jelas ya aku ngomongnya? Atau kamu jadi salting sampai hampir lupa ngerem kaya gitu?", tanyanya menantang.
"Kamu ngga lagi mabok khan, Piet?", timpal-ku meyakinkan.
"Ngga, aku sadar kok. Kamu mau ngga bercinta sama aku?", ulangnya sekali lagi.

Aku tidak menjawab. Ku lihat di depan ada sebuah hotel bintang 2, dan segera kubelokkan mobil yang kukendarai, kuparkir di tempat yang tidak terlalu mencolok. Tanpa bicara, kugandeng Pipiet yang tercengang karena kenekatanku, dan segera ku buka sebuah kamar.

Setelah kami berdua ada di kamar, aku memandangnya tak percaya.

"Kamu serius ngajak bercinta?", tanyaku tak percaya.
"Kapan aku pernah ngga serius", katanya seolah menantang.

Aku menatapnya dalam-dalam, dan sejurus kemudian, kami berciuman. Saat itu, tak hanya berciuman yang kami lakukan. Aku membelai rambutnya yang panjang, dan tiba-tiba, Pipiet melepaskan ciumannya, dan berpindah untuk menciumi leherku. Tangannya mulai membelai dadaku, dan mulai menyingkap kemejaku, membelai perutku. Dasar waktu itu aku memang masih yunior, aku hampir tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Menonton film porno memang sudah beberapa kali aku lakukan, tapi aku sadar benar, bahwa apa yang terjadi di film porno tersebut hanyalah berbasis nafsu saja, sementara apa yang terjadi sekarang, berbeda karena perasaan kami yang bermain, bukan hanya nafsu.

Tak tahu siapa yang memulainya, kami telah melepaskan seluruh penutup tubuh kami, dan aku diam tercengang, melihat mulusnya tubuh Pipiet yang selama ini hanya dapat aku bayangkan saja.
"Kalau kamu cuma mau ngeliatin aja, mendingan kita pulang dech.", katanya menggoda.
"Sini, pegang dadaku.", katanya memberikan perintah. Aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, segera mengulurkan kedua tanganku dan mulai memegang payudaranya.

Pipiet pun mulai mengelus kejantananku. Kami berciuman lagi, sambil terus meraba. Tanganku mulai turun membelai vaginanya, bulu pubesnya tipis dan jarang. Sangat terawat. Ketika jariku menyentuh klitorisnya, dia menggelinjang dan mendesah.

"Um... Ah...". "Ini saatnya", pikirku. Aku segera melepaskan ciumanku, dan mulai mengeksplorasi tubuhnya. Ciumanku mendarat di lehernya, dan turun ke payudaranya, sambil tanganku tak lepas membelai vaginanya.

Pipiet mendesah, seolah menahan gejolak birahi yang dirasakannya.

"Ah.....". Suara yang semakin membangkitkan gairahku. Aku mulai tidak mencium lagi, tapi mulai mengkombinasikan ciuman dengan jilatan, dan Pipiet semakin dibuat mendesah karenanya. Jilatanku mulai mengeksplorasi kedua payudaranya. Aku mulai liar. Ku jilat, ku kulum, apapun aku lakukan. Setelah puas bermain dengan payudaranya, aku turun dan mulai menjilati perutnya yang datar. Pipiet mulai menggelinjang kegelian. Semakin kebawah, aroma kewanitaanya mulai kuat tercium, dan mulai membuat isi kepalaku menjadi gila. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku turun dan mulai memainkan lidahku pada klitorisnya. Ini membuat Pipiet semakin menggila.

Tiba-tiba, Pipiet mendorongku, menidurkanku dan dia mulai bersimpuh di dekat selangkanganku yang telah berdiri karena menahan nafsu. Dia memegangnya, dan mulai menciumi kepala penisku. Sejurus kemudian ia memasukkan penisku ke mulutnya, mulai mengulumnya hingga separuh penisku amblas nyaris ditelannya. Kali ini aku dibuat semakin gila. Lima menit berlalu, dan akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Kurebahkan tubuh Pipiet, dan kubuka kedua kakinya, hingga vaginanya kini terbuka lebar didepan mataku.

Kuposisikan penisku untuk memasuki vaginanya, dan aku mulai menekan kepala penisku ke dalam vaginanya. Tak lama, penisku amblas ditelan vaginanya, dan Pipiet mendesah kencang.

"Ah..... Ough.....". Aku mulai menggoyangkan pantatku maju dan mundur, berlahan. Hal ini membantunya membiasakan vaginanya dengan penisku. Dan ternyata hal ini juga yang membuatnya semakin tidak nyaman. Desahan-desahan mulai keluar dari mulutnya, dan hal ini semakin membuat aku bersemangat memompakan penisku di dalam vaginanya.

Kami hanya mempraktekan satu gaya saat itu, missionary style. Tapi, Pipiet mencapai orgasme-nya dua kali. Saat hampir sampai orgasmenya yang kedua, akupun hampir mencapai ejakulasiku. Dan pada saat Pipiet mencapai orgasmenya, aku juga mendapatkan ejakulasiku. Kami berdua berteriak bersamaan, seolah melepaskan tekanan yang menghimpit kami selama ini. Aku rebah, dan kami terdiam beberapa saat lamanya. Entah apa yang ada di dalam kepala Pipiet saat itu, tetapi aku merasakan sebuah babak baru dalam hubunganku dengan Pipiet, dan pada saat yang bersamaan, aku juga merasakan bahwa kami tidak akan pernah dapat bersama.


--- END OF THE FLASHBACK ---

Jam 16.30, waktu yang ditunjukkan arlojiku ketika aku mengakhiri sesi pelatihan hari itu. Aku meninggalkan ruangan pelatihan, dan berjalan menuju ruanganku. Ketika aku lihat bahwa Pipiet masih setia menunggu di depan ruangan training. "Piet, punya waktu sebentar ngga. Kita bicara sebentar di ruanganku." kataku sambil mengajaknya ke ruangan kerjaku. Ketika Pipiet sudah masuk ke ruanganku, pintu segera aku tutup, dan aku segera menciumnya, tepat di bibir, sambil sedikit ku lumat. Pipiet tidak menunjukkan perlawanan ataupun penolakan.

Ketika kusudahi ciuman itu, kupersilahkan Pipiet untuk duduk, dan akupun duduk di belakang mejaku. Kami terdiam beberapa waktu, dan Pipiet memecahkan keheningan itu,

"Yo, aku ngga pernah bisa melupakan kamu. Aku tahu kamu sudah berkeluarga, tapi aku masih sayang sama kamu".
"Aku juga Piet", timpalku. "Yo, aku tahu ini tidak benar.

Tapi kalau kamu sedang bosan dengan istrimu, kamu jangan berbuat yang macam-macam sama orang lain ya". "Kalau kamu lagi ribut sama istrimu, aku bersedia menjadi pelampiasan kamu. Yang penting kamu jangan macam-macam sama orang sembarangan.", katanya yang membuatku terbelalak kaget.

Dan peristiwa hari inipun, menjadi awal dari sebuah cerita panjang yang tak berujung.